• Archives

  • Recent Posts

  • Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 1 other follower

  • Categories

  • Meta

Krisis Ekonomi Eropa Membuat Harga Pangan Melonjak Dan Memiskinkan Negara Miskin

Di saat perhatian dunia tertuju pada krisis keuangan di Eropa, penduduk negara-negara miskin di Asia, Amerika Latin, dan Afrika makin terpuruk dalam kemiskinan. Lonjakan harga pangan yang terjadi sejak tahun 2008 semakin menyengsarakan warga di negara-negara miskin.

Keluarga miskin di negara seperti Pakistan, Argentina, hingga Kongo makin terpuruk akibat kenaikan harga pangan di atas 100 persen. Kondisi itu memicu ketegangan politik dan banyak keluarga tidak mampu memiliki daging dalam menu harian.

Majeeda Begum (35), ibu dari lima anak warga Pakistan, mengatakan, harga sekantong gandum naik tiga kali dalam dua tahun terakhir. ”Anggaran rumah tangga sudah tidak mencukupi. Membeli buah juga sudah tidak sanggup,” kata Begum yang tinggal di Multan.

Sejumlah partai oposisi di Pakistan mulai melancarkan protes menyikapi kenaikan harga pangan tersebut.

Program Pangan Dunia PBB (WFP) mencatat, harga beras melonjak dua kali di Mauritania dalam triwulan pertama tahun 2010. Harga jagung melambung 59 persen di Zimbabwe dan di Mozambik hingga 57 persen.

Di Republik Demokrasi Kongo, Mami Monga membeli sekotak ikan seharga 25 dollar AS. Tahun lalu, satu kotak ikan dijual 10 dollar AS. Harga sekarung beras juga berlipat ganda, mencapai 30 dollar AS. Tahun lalu, sekarung beras masih dijual 15 dollar AS.

”Sekarang saya hanya bisa belanja separuh dari kebutuhan rumah tangga,” kata Mami, ibu lima anak.

Abedi Patelli, pelayan toko di Kinsasha, mengatakan, harga pangan naik akibat jatuhnya nilai mata uang Kongo. ”Tetapi kalau mata uang Kongo menguat, harga kebutuhan pokok tidak ikut turun,” keluh Abedi.

Bisa berkepanjangan

Dari Amerika Latin dilaporkan, konversi lahan di Argentina mengakibatkan produksi ternak, gandum, dan jagung merosot. Kondisi tersebut mengakibatkan kenaikan harga pangan. ”Dalam keadaan normal kita makan daging tiga kali seminggu. Sekarang hanya bisa satu kali,” ujar Martha Esposito (45), ibu dua anak yang tinggal di Buenos Aires.

Di Venezuela tercatat 30,4 persen inflasi menyebabkan kenaikan harga pangan. Merosotnya nilai mata uang bolivar terhadap dollar AS membuat harga pangan naik 11 persen dalam dua bulan terakhir.

Juru Bicara WFP Greg Barrow mengatakan, negara miskin bisa terkena dampak berkepanjangan dari kenaikan harga pangan. ”Harga pangan dunia sempat turun menjelang akhir 2008 di pasar global. Namun, harga di pasar lokal di negara berkembang tetap bertahan,” ujarnya.

sumber : politikinternational.wprdpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: